Saat engkau berhenti mencurahkan keperluannya
Layulah bunga
Pudarlah warna
Gelap dunianya
Aku melihat dia minitiskan airmata
Sambil berbisik kepada-Nya
Pilu hatiku mendengar
Sayu membayangkan keperitan
Kelopak demi kelopak berguguran
Tiada seorang pun yang mampu menghentikannya
Hanya mampu aku mengutip
Kelopak kenangan
Kekeringan
Tidak bermaya
Aku simpan kelopak yang dikutip
Yang manis
Yang pahit
Di dalam balang kaca
Sangatlah rapuh
Si Bedah, Tipah dan Senah
Mereka hanya bijak membawa mulut
‘Bodoh’, kata mereka
‘Apa salah cawangan dikembangkan jika modalnya ada?’
Bertambah lah kelopak berguguran
Akibat ditikam sekali lagi
Sungguh dalam
Membisa
Yang dahulu menjadi pujaan
Permaisuri
Di cemburui
Kini dikhianati
Membiar hati dicekam duri
Semakin kelopak jatuh lalu pudar
Aku hanya mampu berdoa
Setelah selesainya keguguran kelopak
Dia akan menjadi lebih kuat
Berdikari
Dan menghargai kelopak kenangan di dalam balang kaca
Yang dahulunya merah menyala
- Nurul Badriah